FINAL TASK BY GROUP 3
Pengaruh Perekonomian Tiongkok Modern terhadap Strategi dan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat by Adhi Sudrajat
Ekonomi dan Militer Amerika dengan Asia by Rizta Safitri
One China Policy dan Double Standard Amerika by Gede Maolana
Hubungan Amerika Serikat dan Jepang dalam Bidang Ekonomi dan Militer by Rheza Aditya
Ekonomi dan Militer Amerika dengan Asia by Rizta Safitri
One China Policy dan Double Standard Amerika by Gede Maolana
Hubungan Amerika Serikat dan Jepang dalam Bidang Ekonomi dan Militer by Rheza Aditya
POLITIK GLOBAL AMERIKA SERIKAT DI KOREA SELATAN
Amerika
Serikat dan Korea Selatan sudah menjalin hubungan yang baik sejak lama.
Hubungan yang paling menonjol dari kedua negara tersebut adalah hubungan
militernya. Aliansi militer antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan sudah
berlangsung kurang lebih sekitar lima dasawarsa terakhir. Hubungan antara
Amerika Serikat dengan Korea Selatan diawali dengan adanya momentum Perang
Dingin. Perang Dingin merupakan pertentangan antara Blok Barat dibawah komando Amerika Serikat dan Blok Timur yang
dipimpin oleh Uni Soviet.
Kedua belah pihak ini kemudian saling bersaing untuk menyebarkan ideologinya
masing-masing, Amerika Serikat dengan ideologi liberal-kapitalisme sementara
Uni Soviet dengan ideologi sosialis-komunisme.
Keterlibatan
Amerika Serikat di wilayah Asia Timur khususnya di Korea sangat terlihat dengan
jelas ketika masa Perang Dingin. Setelah Perang Dunia ke II berakhir, Korea menjadi daerah
yang dipersengketakan. Beberapa hari sebelum Jepang menyerah pada
tanggal 10 Agustus 1945, Amerika Serikat dan Uni Soviet
menerima tawanan-tawanan perang
Jepang yang berada didaerah Korea. Keputusan ini didasarkan pada Perjanjian
Potsdam 1945, yaitu membagi Korea menjadi dua bagian dengan batas wilayah 38º
Lintang Utara, pasukan di bagian Selatan garis tersebut
menyerah kepada Amerika Serikat dibawah pimpinan Letnal
Jenderal John R. Hogde. Sedangkan pasukan Jepang yang berada
disebelah Utara garis 38º Lintang Utara, menyerah kepada Uni Soviet dibawah
pimpinan kolonel Jenderal Ivan M. Christyalov.
Garis batas tersebut
tadinya
bukanlah
garis demarkasi antara Korea Utara dan Korea Selatan, melainkan hanya sebagai batas wilayah untuk menerima
tawanan-tawanan Jepang pasca Perang Pasifik. Namun, pada akhirnya garis
tersebut berubah fungsi menjadi garis demarkasi antara militer Amerika Serikat dan Uni Soviet. Wilayah
Korea pun mau tidak mau terbagi menjadi dua wilayah dengan Amerika Serikat yang
menguasai bagian Selatan dan Uni Soviet menguasai bagian Utara.
Keterlibatan Amerika Serikat di wilayah Asia Timur, terutama di wilayah Korea merupakan salah satu langkah Amerika Serikat dalam menjalankan politik pembendungan komunisme (containment policy) yang diciptakan untuk membendung penyebaran ideologi komunisme oleh Uni Soviet. Korea Selatan sendiri kemudian dijadikan agen containment policy oleh Amerika Serikat. Adanya persengketaan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet di wilayah Korea menyebabkan Korea Selatan dan Korea Utara kemudian berperang. Perang ini merupakan salah satu bentuk proxy war yang tercipta akibat perselisihan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Perang Korea ini terjadi mulai tanggal 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Perang Korea tidak hanya sebatas perang antara Korea Utara dan Korea Selatan saja. Namun, dibelakang kedua negara tersebut ada sekutu masing-masing yang membantu jalannya perang. Korea Utara bersekutu dengan Uni Soviet yang merupakan musuh utama Amerika Serikat pada saat itu serta bersekutu juga dengan Tiongkok yang berideologi komunisme, sehingga Amerika Serikat kemudian memutuskan untuk membantu Korea Selatan dalam Perang Korea. Kepedulian Amerika Serikat terhadap Korea Selatan sangat terlihat dengan jelas pada masa ini. Presiden Truman memerintahkan kepada Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memberi perlindungan kepada pasukan Korea Selatan. Strategi militer yang dilakukan adalah dengan membuat bendungan yang disertai dengan pasukan-pasukan yang cukup kuat. Presiden Truman mengerahkan pasukan-pasukan Amerika Serikat yang berada di Jepang, untuk mengadakan blokade di seluruh pantai Korea. Aliansi militer yang tercipta antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan pada masa Perang Korea ini cukup kuat. Pada tanggal 8 Agustus 1953, Amerika Serikat dan Korea Selatan bahkan menandatangani sebuah pakta pertahanan yang isinya adalah Amerika Serikat akan memberikan perlindungan bagi Korea Selatan apabila ada serangan dari luar (Agung L., 2012).
Dalam mendirikan negaranya, Republik Korea Selatan juga dibantu oleh Amerika Serikat. Ketika baru terpisah dengan Korea Utara, Korea Selatan merupakan negara baru yang terpuruk akibat krisis pasca perang dengan Korea Utara. Namun karena adanya kedekatan hubungan dengan Amerika Serikat, Korea Selatan mampu melalui masa sulit tersebut. Amerika Serikat memberikan bantuan bagi Korea Selatan supaya Korea Selatan mampu melakukan pembangunan.
Saat ini, hubungan yang terjalin antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan bukanlah lagi tentang pembendungan komunisme seperti pada era Perang Dingin. Meskipun begitu, hubungan yang ada masih tetap erat seperti dahulu. Amerika Serikat terfokus pada keperluan untuk mempertahankan aliansi dan melanjutkan kemitraan yang didukung dengan integrasi ekonomi serta lewat promosi hak asasi manusia dan juga demokrasi. Untuk itu, Amerika Serikat tetap menjalin hubungan baik dengan banyak negara-negara di dunia termasuk dengan Korea Selatan yang bisa dikatakan sebagai sahabat lama Amerika Serikat. Dalam rangka mempertahankan hubungan baik tersebut, Amerika Serikat menerapkan sistem forward deployed diplomacy. Amerika Serikat mengadopsi kebijakan yang proaktif dengan mengirimkan aset diplomatik yang dimiliki untuk menangani permasalahan penting di kawasan Asia termasuk Korea Selatan (Clinton, 2010).
Selain itu, faktor penting lainnya yang mempererat hubungan Amerika Serikat dengan Korea Selatan adalah adanya ancaman nuklir dari Korea Utara. Seperti pada masa Perang Dingin dan Perang Korea, hubungan di antara Amerika Serikat dan Korea Selatan dengan Korea Utara tidak pernah membaik. Hubungan mereka selalu penuh dengan kecurigaan apalagi ketika Korea Utara melakukan ancaman dengan senjata nuklirnya. Aksi provokatif dan pengembangan senjata nuklir di Korea Utara membutuhkan pengawasan yang ketat. Amerika Serikat mengajak Korea Selatan untuk saling membantu dalam menghadapi ancaman dan tindakan-tindakan provokatif yang dilakukan oleh Korea Utara. Aliansi Korea Selatan dan Amerika Serikat merupakan tumpuan stabilitas dan keamanan di kawasan dan sekarang bahkan jauh melampaui itu. Selain melakukan kerjasama militer, kedua negara membangun hubungan ekonomi yang dinamis dimana Amerika Serikat dan Korea Selatan sepakat untuk melakukan perdagangan bebas. Kesepakatan perdagangan ini dibuat karena Korea Selatan sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup besar merupakan salah satu mitra dagang terbesar Amerika Serikat begitu juga sebaliknya. Sehingga adanya perjanjian mengenai perdagangan bebas diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi keduanya (Clinton, 2010).
Dari apa yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwasanya keterlibatan Amerika Serikat di Korea Selatan diawali dengan adanya momentum Perang Dingin yang kemudian diikuti proxy war yang terjadi di Korea yaitu Perang Korea. Hubungan yang terjadi diawali dalam rangka membendung penyebaran komunisme yang dilakukan oleh Uni Soviet. Kemudian hubungan di antara Amerika Serikat dan Korea Utara berkembang pesat ditandai dengan adanya aliansi militer yang semakin menguat. Meski saat ini ancaman komunisme sudah hilang, hubungan Amerika Serikat dengan Korea Selatan tidak lenyap begitu saja. Keduanya masih menjalin hubungan yang erat dimana ancaman nuklir Korea Utara menjadi salah satu faktornya. Selain itu faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan bagi keduanya untuk tetap melanjutkan hubungan baik yang sudah terbentuk.
Keterlibatan Amerika Serikat di wilayah Asia Timur, terutama di wilayah Korea merupakan salah satu langkah Amerika Serikat dalam menjalankan politik pembendungan komunisme (containment policy) yang diciptakan untuk membendung penyebaran ideologi komunisme oleh Uni Soviet. Korea Selatan sendiri kemudian dijadikan agen containment policy oleh Amerika Serikat. Adanya persengketaan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet di wilayah Korea menyebabkan Korea Selatan dan Korea Utara kemudian berperang. Perang ini merupakan salah satu bentuk proxy war yang tercipta akibat perselisihan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Perang Korea ini terjadi mulai tanggal 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Perang Korea tidak hanya sebatas perang antara Korea Utara dan Korea Selatan saja. Namun, dibelakang kedua negara tersebut ada sekutu masing-masing yang membantu jalannya perang. Korea Utara bersekutu dengan Uni Soviet yang merupakan musuh utama Amerika Serikat pada saat itu serta bersekutu juga dengan Tiongkok yang berideologi komunisme, sehingga Amerika Serikat kemudian memutuskan untuk membantu Korea Selatan dalam Perang Korea. Kepedulian Amerika Serikat terhadap Korea Selatan sangat terlihat dengan jelas pada masa ini. Presiden Truman memerintahkan kepada Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memberi perlindungan kepada pasukan Korea Selatan. Strategi militer yang dilakukan adalah dengan membuat bendungan yang disertai dengan pasukan-pasukan yang cukup kuat. Presiden Truman mengerahkan pasukan-pasukan Amerika Serikat yang berada di Jepang, untuk mengadakan blokade di seluruh pantai Korea. Aliansi militer yang tercipta antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan pada masa Perang Korea ini cukup kuat. Pada tanggal 8 Agustus 1953, Amerika Serikat dan Korea Selatan bahkan menandatangani sebuah pakta pertahanan yang isinya adalah Amerika Serikat akan memberikan perlindungan bagi Korea Selatan apabila ada serangan dari luar (Agung L., 2012).
Dalam mendirikan negaranya, Republik Korea Selatan juga dibantu oleh Amerika Serikat. Ketika baru terpisah dengan Korea Utara, Korea Selatan merupakan negara baru yang terpuruk akibat krisis pasca perang dengan Korea Utara. Namun karena adanya kedekatan hubungan dengan Amerika Serikat, Korea Selatan mampu melalui masa sulit tersebut. Amerika Serikat memberikan bantuan bagi Korea Selatan supaya Korea Selatan mampu melakukan pembangunan.
Saat ini, hubungan yang terjalin antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan bukanlah lagi tentang pembendungan komunisme seperti pada era Perang Dingin. Meskipun begitu, hubungan yang ada masih tetap erat seperti dahulu. Amerika Serikat terfokus pada keperluan untuk mempertahankan aliansi dan melanjutkan kemitraan yang didukung dengan integrasi ekonomi serta lewat promosi hak asasi manusia dan juga demokrasi. Untuk itu, Amerika Serikat tetap menjalin hubungan baik dengan banyak negara-negara di dunia termasuk dengan Korea Selatan yang bisa dikatakan sebagai sahabat lama Amerika Serikat. Dalam rangka mempertahankan hubungan baik tersebut, Amerika Serikat menerapkan sistem forward deployed diplomacy. Amerika Serikat mengadopsi kebijakan yang proaktif dengan mengirimkan aset diplomatik yang dimiliki untuk menangani permasalahan penting di kawasan Asia termasuk Korea Selatan (Clinton, 2010).
Selain itu, faktor penting lainnya yang mempererat hubungan Amerika Serikat dengan Korea Selatan adalah adanya ancaman nuklir dari Korea Utara. Seperti pada masa Perang Dingin dan Perang Korea, hubungan di antara Amerika Serikat dan Korea Selatan dengan Korea Utara tidak pernah membaik. Hubungan mereka selalu penuh dengan kecurigaan apalagi ketika Korea Utara melakukan ancaman dengan senjata nuklirnya. Aksi provokatif dan pengembangan senjata nuklir di Korea Utara membutuhkan pengawasan yang ketat. Amerika Serikat mengajak Korea Selatan untuk saling membantu dalam menghadapi ancaman dan tindakan-tindakan provokatif yang dilakukan oleh Korea Utara. Aliansi Korea Selatan dan Amerika Serikat merupakan tumpuan stabilitas dan keamanan di kawasan dan sekarang bahkan jauh melampaui itu. Selain melakukan kerjasama militer, kedua negara membangun hubungan ekonomi yang dinamis dimana Amerika Serikat dan Korea Selatan sepakat untuk melakukan perdagangan bebas. Kesepakatan perdagangan ini dibuat karena Korea Selatan sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup besar merupakan salah satu mitra dagang terbesar Amerika Serikat begitu juga sebaliknya. Sehingga adanya perjanjian mengenai perdagangan bebas diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi keduanya (Clinton, 2010).
Dari apa yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwasanya keterlibatan Amerika Serikat di Korea Selatan diawali dengan adanya momentum Perang Dingin yang kemudian diikuti proxy war yang terjadi di Korea yaitu Perang Korea. Hubungan yang terjadi diawali dalam rangka membendung penyebaran komunisme yang dilakukan oleh Uni Soviet. Kemudian hubungan di antara Amerika Serikat dan Korea Utara berkembang pesat ditandai dengan adanya aliansi militer yang semakin menguat. Meski saat ini ancaman komunisme sudah hilang, hubungan Amerika Serikat dengan Korea Selatan tidak lenyap begitu saja. Keduanya masih menjalin hubungan yang erat dimana ancaman nuklir Korea Utara menjadi salah satu faktornya. Selain itu faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan bagi keduanya untuk tetap melanjutkan hubungan baik yang sudah terbentuk.
REFERENSI
Agung, L.
2012. Sejarah Asia Timur 2. Yogyakarta: Ombak.
Clinton, Hillary. 2010. Hubungan Amerika Serikat dengan Kawasan Asia
Pasifik. (Online), (http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/berita01112010_2.html), diakses tanggal 27 Juni 2015.
Cossa, A. Ralph. 1999. U.S.-Korea-Japan-Relations: Building Toward a “Virtual Alliance”. Washington, D.C.: The Center for Strategic and International Studies.
Irmawan. 2010. Kebijakan Extended Deterrence Amerika Serikat dalam Konflik Dua Korea. (Online), (http://www.iisip.ac.id/content/kebijakan-extended-deterrence-amerika-serikat-dalam-konflik-dua-korea-2005-2010), diakses tanggal 25 Juni 2015.
Cossa, A. Ralph. 1999. U.S.-Korea-Japan-Relations: Building Toward a “Virtual Alliance”. Washington, D.C.: The Center for Strategic and International Studies.
Irmawan. 2010. Kebijakan Extended Deterrence Amerika Serikat dalam Konflik Dua Korea. (Online), (http://www.iisip.ac.id/content/kebijakan-extended-deterrence-amerika-serikat-dalam-konflik-dua-korea-2005-2010), diakses tanggal 25 Juni 2015.
Tanto, Sukardi. 2011. Perang Dingin: Episode Sejarah Barat dalam
Perspektif Konflik Ideologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Warsito, Tulus. 2007. Nosajeong: Rahasia Kebangkitan dan
Percepatan Demokrasi Korea. Yogyakarta: Pilar Media.


